Ketika Seekor Burung Mengajarkan Cara Mencari Rezeki
Catatan dari Pengajian di Ma’had Putri Layyanah Hidayatullah Palu

Ahad malam selepas shalat maghrib, 27 September 2026, Ma’had Putri Layyanah Hidayatullah Palu tidak seperti hari biasanya. Masjid dipenuhi jamaah. Di depan, seorang pemateri duduk dengan tenang — Ust. Aqib Junaid Kahar, Ketua Badan Pembina Hidayatullah Palu.
Tema yang diangkat sederhana, tapi berat: “Teladan Orang Tua, Jalan Anak Menuju Surga.”
Di dalam masjid, duduklah generasi yang berbeda-beda. Ada yang masih muda, ada yang sudah beruban. Ada yang datang dengan anak kecil di pangkuan. Semuanya menyimak, seperti sedang mencari jawaban atas satu pertanyaan yang sama: bagaimana caranya menjadi orang tua yang mengantar anak menuju surga?
Ketika Minyak Tanah Berganti Genggaman Tangan
Ust. Aqib memulai dengan sesuatu yang mungkin jarang kita syukuri: teknologi.
Ia mengajak jamaah membayangkan masa lalu. Ketika orang tua kita harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan penerangan. Ketika para jamaah haji harus menyeberangi lautan selama enam bulan dengan kapal laut, menahan rindu pada keluarga, menahan letih pada tubuh.
“Hari ini, segalanya berubah serba cepat,” ujarnya. “Kita bahkan sulit membayangkan seperti apa lompatan teknologi dalam beberapa dekade ke depan.”
Tapi ia tidak berhenti pada pujian. Ia justru mengajak jamaah melihat sisi lain dari kemudahan itu.
Dahulu, anak-anak tumbuh tanpa game. Hari ini, game hadir di setiap genggaman tangan. Dahulu, orang tua tahu ke mana anaknya pergi. Hari ini, seorang anak bisa “pergi” ke mana saja melalui layar, tanpa pernah beranjak dari kursinya.
Kalimat yang ia kutip terasa berat di ruangan itu:
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.”
Zamannya sudah berubah. Pertanyaannya: sudahkah cara kita mendidik ikut berubah?
Burung Patah Sayap dan Seorang Jamaah yang Salah Menyimpulkan
Di tengah suasana yang mulai hening, Ust. Aqib bercerita.
Ada seorang jamaah yang berniat absen dari halaqah pekan depan. Alasannya sederhana: urusan bisnis. Tapi ketika pekan berikutnya tiba, ia tetap datang. Duduk di barisan yang sama.
Saat ditanya, ia bercerita tentang sesuatu yang ia lihat beberapa hari sebelumnya.
Ia melihat seekor burung tergeletak dengan kaki dan sayap patah. Burung itu tidak bisa terbang, tidak bisa berjalan. Tapi ia tetap bisa makan — karena ada burung lain yang terbang menghampirinya dan membawakannya makanan.
Dari kejadian itu, ia menyimpulkan: “Rezeki sudah diatur, jadi kita tidak perlu terlalu serius mengejar bisnis.”
Ruangan hening. Beberapa jamaah tersenyum tipis.
Lalu Ust. Aqib bertanya dengan nada lembut — dan jawabannya membuat semua terdiam:
“Burung mana yang seharusnya kita teladani? Yang patah sayap, atau yang terbang mencari makanan untuk yang patah sayap?”
Seharusnya, katanya, kita meneladani burung yang sehat — burung yang aktif bekerja, sibuk mencari rezeki, lalu terbang kembali untuk membantu mereka yang lemah. Bukan malah meniru yang lumpuh dan berhenti berusaha.
Kekeliruan itu, jelas Ust. Aqib, adalah salah tangkap — mengambil kesimpulan dari peristiwa tanpa menangkap makna utuhnya.
Ia mengutip firman Allah:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah…”
Ibadah dan ikhtiar, tegasnya, bukan dua hal yang saling bertolak. Keduanya berjalan seiring.
Kambing Ajaib dan Pak Haji yang Menyesal
Suasana kembali cair ketika Ust. Aqib menyampaikan anekdot berikutnya.
Alkisah, seorang pemuda bernama Udin memenangkan kontes dengan hadiah Rp300.000. Uang itu, entah bagaimana, tertelan oleh kambingnya. Panik, Udin mencari akal. Ia meminumkan kopi ke kambing tersebut — seteguk demi seteguk.
Ajaib. Kambing itu memuntahkan uang Rp100.000 secara bertahap.
Seorang Pak Haji yang kebetulan menyaksikan kejadian itu terpesona. Dalam pikirannya: inilah kambing ajaib penghasil uang. Tanpa banyak tanya, ia membeli kambing itu dengan harga Rp25.000.000.
Jamaah tertawa. Tapi Ust. Aqib tidak sedang bercerita untuk lucu-lucuan.
“Inilah kekeliruan kedua,” ujarnya. Menilai sesuatu dari potongan peristiwa, tanpa memahami gambaran besarnya.
Pak Haji itu hanya melihat efek, bukan sebab. Ia melihat uang keluar dari mulut kambing, tapi tidak tahu bahwa Udin meminumkannya kopi. Ia menyimpulkan dari permukaan, lalu menanggung kerugian besar.
Dan kekeliruan ketiga, lanjutnya, adalah menjadikan fragmen cerita sebagai pembenaran. Memilih satu bagian kisah yang menguntungkan, mengabaikan bagian lain yang menuntut tanggung jawab.
Ketika Rasulullah SAW Ditegur Allah
Menjelang akhir, Ust. Aqib membawa jamaah ke sebuah peristiwa yang agung: musyawarah pasca-Perang Badar.
Saat itu, para tawanan perang harus diputuskan nasibnya. Dua sahabat besar berbeda pandangan.
Umar bin Khattab RA cenderung pada sikap tegas. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA cenderung pada sikap penuh kasih.
Rasulullah SAW memahami keduanya. Beliau berkata bahwa pandangan Umar tidak salah. Tapi beliau memilih mengikuti kecenderungan Abu Bakar RA — mengambil tebusan dari para tawanan.
Lalu turunlah teguran dari Allah:
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat…”
Ust. Aqib berhenti sejenak. Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik:
“Rasulullah SAW sendiri ditegur langsung oleh Allah ketika ada kekeliruan — agar tidak berlarut-larut.”
Pelajaran itu, katanya, adalah cermin bagi setiap pemimpin. Setiap orang tua. Termasuk dirinya sendiri.
“Jangan pernah merasa paling suci hanya karena kedudukan atau jabatan. Kesadaran diri untuk mengoreksi diri sendiri adalah tanda kebesaran sejati.”
Ismail, Hajar, dan Rantai yang Tak Terputus
Menjelang penutup, Ust. Aqib mengajak jamaah memikirkan satu pertanyaan yang mungkin pernah singgah di hati banyak orang:
Apakah Nabi Nuh AS gagal, karena anak dan istrinya tidak beriman?
Jawabannya: tidak.
“Keberhasilan seorang pendidik tidak diukur dari hasil akhir berupa hidayah,” tegasnya. “Hidayah adalah hak mutlak Allah.”
Dalam Al-Qur’an, kita menemukan empat tipologi pasangan. Suami beriman istri kafir, istri beriman suami kafir, keduanya kafir, dan keduanya beriman. Setiap jiwa, katanya, bertanggung jawab atas imannya masing-masing.
Tapi bukan berarti ikhtiar menjadi sia-sia. Ada rantai yang harus dijaga.
Ia lalu menuturkan kisah Nabi Ismail AS — anak yang ketika diperintah untuk disembelih, menjawab dengan kalimat yang mengguncang langit:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Mengapa Ismail bisa setaat itu?
Karena Ismail dididik oleh Siti Hajar.
Dan Siti Hajar memiliki keteguhan iman karena dikader oleh Nabi Ibrahim AS.
Dan Nabi Ibrahim AS adalah sosok yang bersabar saat dibakar hidup-hidup demi membela kebenaran.
Rantai itu utuh. Tidak terputus. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Sekadar Pindah Rumah Saja Sulit”
Di titik ini, suara Ust. Aqib berubah. Tidak lagi menjelaskan, tapi bertanya.
“Hari ini, jangankan ditugaskan merintis cabang baru di daerah perintis. Sekadar diminta pindah rumah yang masih dalam satu lingkungan kampus saja — prosesnya sangat sulit. Penuh keluhan.”
Jamaah terdiam.
Ia tidak sedang menyalahkan. Ia sedang mengajak introspeksi.
Bagaimana mungkin anak-anak kita menjadi pribadi yang taat, kalau mereka melihat kita sendiri tidak taat?
Bagaimana mungkin kader-kader kita siap berkorban, kalau mereka melihat pemimpinnya menghindari pengorbanan?
Penutup: Jalan yang Dimulai dari Rumah
Pengajian itu selesai saat matahari mulai tinggi. Jamaah beranjak, sebagian menyalami pemateri, sebagian lagi berbincang pelan sambil berjalan keluar.
Di luar, anak-anak kecil berlarian di halaman. Tertawa. Tanpa tahu bahwa pagi itu, di dalam ruangan, orang tua mereka baru saja diberi peta.
Peta menuju satu arah yang sederhana, tapi jarang ditempuh:
Teladan.
Bukan lewat kata-kata. Bukan lewat perintah. Tapi lewat bukti nyata yang ditunjukkan oleh orang tua dan pemimpin terlebih dahulu.
Karena ketaatan, kata Ust. Aqib, tidak lahir dari instruksi lisan. Ia lahir dari rantai keteladanan yang dijaga dari generasi ke generasi.
Dari rumah tangga.
Ke lembaga.
Ke masyarakat.
Dan pada akhirnya — menuju surga.
Catatan:
Dicatat dan ditulis ulang oleh Irfan Yahya, Ketua Pos Da’i Sulawesi Tengah.